About

@januartiP
Tampilkan postingan dengan label Favorit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Favorit. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2015

Cerita Tentang Aku dan Kamu: #3

Cerita Tentang Aku dan Kamu: #1
Cerita Tentang Aku dan Kamu: #2

***
Malam-malam selanjutnya berjalan seperti biasanya. Namun, malam-malam ini menjadi beda setelah malam di mana aku mampir ke rumahnya. Sekarang, Arif sering memberi perhatian kepada ku. Entahlah. Sampai suatu malam Arif datang bertamu ke rumah ku.
"Tumben kemari. Ada apa?" Ucap ku.
"Iya, cuma mau nanya." Terlihat jelas dari raut wajah Arif begitu gugup.
"Nanya aja lagi." Aku mulai heran.
"Emh.. Nay. Sekarang kamu udah dewasa ya. Gak kerasa. Dulu kita masih ketawa-ketiwi bareng ngetawain hal yang mungkin sebenernya gak lucu, tapi kita ketawa. Dulu kita masih main bareng. Dulu kita masih akrab. Gak kerasa, kamu udah mau kuliah aja. Emh.. Pengumuman SBMPTN kapan ya, Nay?"
Ada yang aneh. Kalau niatnya hanya ingin tau tanggal pengumuman SBMPTN, kenapa harus berbelit-belit mengungkap masa lalu?

Jumat, 03 Juli 2015

Cerita Tentang Aku dan Kamu: #2

Cerita Tentang Aku dan Kamu: #1

***
Kezya tidak bisa ikut shalat tarawih hari ini. Karena dia sedang berhalangan. Ya sudah, tak mengapa. Aku berangkat sendiri ke masjid. 
Sudah tiga hari aku tidak melihat Arif. Tidak seperti biasanya. Ada banyak pertanyaan muncul dibenak ku. Arif kemana ya? Kebetulan, aku duduk bersebelahan lagi dengan Bu Sari. Batin ku memaksa untuk bertanya pada Bu Sari, kemana Arif, Bu? Tapi, mulut ku serasa terkunci untuk menanyakan hal itu. Hati ku mulai tak tenang. Aku mulai berdzikir dalam hati agar hati ku tenang.

Tarawih malam ini sudah usai. Seperti biasa, kami para jemaah saling bersalaman satu sama lain. Aku menyalami Bu Sari.
"Tumben sendirian aja, Nay."
"Iya bu, Kezya lagi berhalangan."
 "Oh gitu. Oh iya, Nay. Arif nanyain kamu dari kemarin. Tumben. Ada apa nih?" Dengan nada sedikit menggoda ku.
Aku tersentak mendengar Bu Sari berbicara seperti itu. Tidak percaya. Tapi ini nyata.

Cerita Tentang Aku dan Kamu: #1

"Eh, bentar. Ini anaknya Pak Wandi bukan, ya?" Tanya sang Ibu yang duduk di sebelah ku.
"Eh, Ibu. Bukan, bu. Aku anaknya Pak Rudi." Jawab ku.
"Oh iya iya, Ibu ingat. Pantas daritadi Ibu ingat-ingat siapa. Soalnya familiar mukanya." Ujarnya.
Beliau adalah guru TK ku. Yang telah berjasa mendidik aku saat aku belum banyak mengetahui banyak hal, saat aku begitu banyak bertanya tentang segala hal, saat rasa keingintahuan seorang anak kecil yang sangat besar itu harus mempunyai jawaban. Namanya Ibu Sari. Yang aku ingat, beliau mempunyai dua buah hati. Dan yang paling aku ingat anak bungsunya. Arif. Karena kami sempat kenal dulu. Saat masih kanak-kanak. Bermain bersama. Walau ia lebih tua dari ku. Ya bisa dibilang dia adalah kakak kelas ku. Tapi, ia biasa ikut dengan Bu Sari ke TK.

Senin, 15 April 2013

Kau Teman atau Topeng?

Sewaktu SD gue menjalin suatu pertemanan adem ayem aja.. Sekiranya ada konflik ya biasa konflik anak kecil, hal kecil pasti dijadikan masalah. Contohnya gue berteman deket dengan si A. Tapi ternyata si A ini gak suka sama si B. Suatu hari gue barengan sama si B. Dan akhirnya gue dijauhi sama si A. Hahaha konyol banget gue ngingetnya. Kalian juga pasti pernah ngerasain jaman-jaman ini kan?

Sewaktu SMP juga gue menjalin pertemanan mulus-mulus aja. Menurut gue, gue baru mendapatkan dan merasakan punya temen yang selalu ada buat gue, care sama gue, asyik, yaaa seru pokonya. Gue nemuin mereka semenjak gue kelas 2 SMP. Ini dia si duo jalu Febby dan Intan/akew nama famousnya. Yah penilai gue tehadap mereka ini absurd. Iya mereka ini absurd banget. Tapi seru, asyik berteman dengan mereka.

Jumat, 08 Maret 2013

Goresan Pena

Aku bukan penulis hebat yang dapat membuat kata demi kata menjadi sebuah kalimat demi kalimat yang indah dan rapi. Aku bukan penyair yang dapat merangkai kata-kata indah. Aku hanya bisa membuat sedikit kata, dalam goresan pena.

Goresan pena..
Awalnya aku hanya bisa menuliskan kata tentang "aku". Suatu saat aku mengenal dia, akhirnya aku bisa menuliskan kata tentang "kamu". Setelah aku mengenal kamu, aku beniat untuk belajar menulis kata tentang "kita". Sudah cukup lama aku dan kamu kenal akhirnya aku dapat menulis kata baru, yaitu menulis kata tentang "kita". Apa aku salah berniat untuk menulis tentang kita? Setelah sekian lama aku berlatih menulis kata "kita" tiba-tiba... aku tidak bisa menulis kata "kita" lagi dalam cerita hidupku. Alhasil yang aku tuliskan hanya kata aku dan kamu. Iya ternyata kata yang keluar hanya kata aku dan kamu, tanpa kita (lagi).
Entah mengapa hanya dalam waktu yang begitu singkat, tiba-tiba saja aku lupa bagaimana caranya menulis kata tentang kita dalam hidupku. Cara itu hilang dengan sendirinya.



Mungkin benar, aku salah. Seharusnya dari awal aku tidak usah belajar untuk menulis apa-apa tentang kita. Sekarang aku menyesal.
Aku menyesal. Ternyata goresan pena itu sangat pekat. Sangat sulit sekali untuk ku hapus. Sudah aku pikirkan bagaimana caranya menghapus kata demi kata yang sudah aku tuliskan. Tetapi.. cara itu masih tetap meninggalkan bekas pada kertas putih.
Setelah aku pikirkan kembali, akhirnya aku mendapat jawaban. Jika aku mau menghapus semua kata itu tanpa bekas, aku harus membuang semua lembaran yang sudah ku penuhi dengan goresan pena. Awalnya aku tidak mau membuang lembaran itu, aku ingin menyimpannya dengan rapi. Tapi jika aku menyimpan lembaran itu, semua itu hanya akan membuatku berantakan. Sampai suatu hari akhirnya aku berhasil membuang semua lembaran itu tanpa rasa sesal sedikit pun.
Ya. Pada lembaran yang baru ini aku akan lebih behati-hati lagi untuk menuliskan sebuah kata.

Goresan pena itu.. 
Begitu indah, suatu ungkapan hati manusia yang memiliki beribu makna.. Dan dapat membuat kita larut kedalamnya.
- Goresan Pena -

Jum'at, 8 Maret 2013
Setumpuk Kenangan Goresan Pena
@januartiP

Minggu, 27 Januari 2013

Jangan Galau? Galau jangan?

Dilema nih sama keputusan sendiri.
Kalau gue gak galau, gue gak bisa nulis. Kalau gue galau terus, gue bakal diamuk masa.
Jadi gini... Teman-teman gue udah pada komentar kalau gue galau. Karena gue terlalu keseringan galau kali ya. Lah? Mereka gak tau sih ya kalau galaunya gue tuh berkualitas. Duh malesin berkualitas. Kalian tau gak tulisan-tulisan gue ini hasil dari apa? Dari galau!! Kata-kata so bijak gue yang sering gue keluarin itu hasil darimana? Ya dari galau!! Ya karena gue belum dapet jodoh jadi panutan inspirasi gue ya cuma galau... Cukup tau. 
Bayangin kalau gue gak galau.. Mungkin ini blog udah jadi sarang laba-laba. Sayangkan udah dibuat, udah susah-susah buat header blog, udah pusing-pusing ngedesaign sedemikian simplenya blog gue kalau gaada karya tulisannya apa guna blog ini? Duh, kok jadi gini.

 
 
 
 
Dihari ulang tahun gue pun banyak yang doain jangan galau, itu tadi cuma beberapa yang gue masukin.
Ada juga yang bilang langsung, duh itutuh sama aja merobek hati gue untuk berhenti nge-blog. Kalau gue gak galau, mau berkarya gimana? :(
Kalau gue bahagia gue selalu gak mood untuk nyeritain kebahagiaan di blog gue. Entah kenapa. Semua yang mau gue ukir di blog tetiba menghilang begitu saja. Efek terlalu bahagia? Atau emang blog gue isinya harus selalu galau? :(

Pernah suatu hari gue main Jujur atau Berani dikelas. Jujur. Dan gue tanya ke temen gue yang kalah "Apa sih yang gak disukain dari kita?" Terus dia bilang gini "Dari janu dulu yah, aku teh suka sebel kalau kamu galau. Galau wae. Asa gaada kebahagiaan gitu dihidupnya teh"
Tau apa yang gue rasain kan? </3
Terus pernah juga ada yang bilang gini
"Jan jangan galau"
Terus kata gue "Siapa yang galau, gak galau inimah"
Terus kata dianya "Gak galau gimana? Twitnya semua galau, blognya galau semua....."
Iya! Skakmat!


Ini komentar paling terbaru, bawa-bawa tahun lagi-___-



Biarkan aku tetap bergalau teman-teman agar aku bisa terus berkarya...
Gue udah dapet keputusan mulai saat ini gue gak akan terlalu galau.
Segitu peng-galau-an-kah aku ini teman-teman?

Jumat, 18 Januari 2013

Bodoh Itu.....

Sering kali aku berfikir..
Kenapa aku selalu banyak waktu untuk kamu sedangkan kamu tidak pernah menyisihkan waktumu untuk aku?
Kenapa aku selalu memikirkan kamu sedangkan kamu mungkin disana sama sekali tidak memikirkan aku?
Kenapa aku selalu mementingkan kamu sedangkan kamu tidak mementingkan aku?
Kenapa? Ah.... Kenapa? Apa? 'Kenapa' itu pertanyaan yang bodoh. Tidak adil yah. Tidak logis. Aku yang berlebihan? Atau emang kamunya emang begitu? Ah konyol~

Bodoh..
Bodoh, selalu mementingkan orang yang tidak mementingkan kita.
Bodoh, selalu memikirkan orang yang tidak memikirkan kita.
Bodoh, selalu mengutamakan orang yang tidak pernah menutamakan kita.
Bodoh, selalu menanti kabar dari orang yang diharapkan, tapi ternyata dia tidak ingat pada kita.
Bodoh, selalu mempertahankan orang yang tidak mempertahankan kita.
Bodoh, selalu merasa perhatiannya sepenuhnya untuk kita padahal untuk sana sini.
Iya bodoh. Bodoh!
Lebih bodoh lagi, aku tau semua hal itu bodoh. Tapi kenapa aku masih saja melakukan hal itu? Ah konyol lagi kan~

Bentar, tunggu! kata 'kamu' dalam tulisan aku itu siapa ya? Aku juga tidak tahu. Karna 'kamu' dalam tulisanku ini hanya bayangan. Iya bayangan.

Jum'at, 18 Januari 2013
Salam, JP!

Rabu, 09 Januari 2013

'Masalah'

Dalam hidup gaada jaminan untuk terus bahagia. Yah.. Apalagi penghalang kebahagiaan kalau bukan si "masalah"?
Aku sering berpikir.. Kenapa masalah tidak diciptakan dengan berwujud manusia saja? Mungkin dia akan menjadi orang paling menyebalkan dan paling menderita. Bahkan paling hina sekalipun.
Seandainya masalah berwujud manusia, pasti kamu sudah dicaci maki habis-habisan sama semua manusia.
Seandainya masalah berwujud manusia, pasti kamu sudah dipukuli habis-habisan sama semua manusia. Bahkan bisa jadi ditembak mati. Atau dikubur hidup-hidup!
Seandainya masalah berwujud manusia, pasti semua manusia akan membenci dirimu! Menghina dirimu! Bahkan menjauhi dirimu!
Seandainya masalah berwujud manusia, aku ingin menjadi orang pertama yang memukuli tubuhmu habis-habisan! Ya sekejam-kejamnya sampai pipimu memar saja sudah cukup. Karena pasti semua orang juga ingin melakukan hal yang sama seperti aku. Memukuli tubuhmu tanpa ampun!

Berbeda jauh dengan kebahagiaan..

Seandainya kebahagiaan berwujud manusia, sudah pasti semua orang menyukai dirinya.
Seandainya kebahagiaan berwujud manusia, mungkin semua orang memanjakan dirimu.
Seandainya kebahagiaan berwujud manusia, semua orang pasti bersih keras mendekati dirimu.
Yah.. Berbanding terbalik sekali dengan masalah

Sayangnya, semua itu kan hanya sekedar 'seandainya'. HAHA iya seandainya. Mustahil. Konyol ya? Haha yasudah tidak usah didengar, aku hanya sedang berargumen dengan diriku sendiri.
Masalah.. bisa tidak kau tak singgah dihidupku? 1 bulan saja. Atau 1tahun. Tapi kalau aku masih bisa menawar lebih, bisa tidak kau tak singgah dihidupku seumur hidupku?

Rabu, 9 Januari 2013
Salam benci, masalah!

Senin, 03 Desember 2012

Bulan Purnama

Bulan purnama..... 
Malam ini ku lihat keluar ternyata bulan itu ada lagi. Melihatnya, aku jadi teringat sebulan yang lalu saat aku bisa melihat bulan purnama bersama kamu. Tepatnya saat kita sedang merayakan bulanan kita. Dalam langit gelap, seekor kelelawar yang berterbangan seolah mengawasi kita, ditemani oleh turunnya hujan gerimis, dan dilengkapi oleh tatapan hangat dan sebuah pelukan. Sempurna. Indah sekali, bukan? Tentu saja indah.

Tapi sekarang? Aku hanya dapat menikmati bulan pernama itu sendiri. Seorang diri yang kesepian dan merindukan sosok mu ada disamping ku. Kenapa waktu begitu cepat berlalu? Dan kenapa perpisahan cepat sekali menghampiri ku? Dalam ikatan yang sudah berbeda pun, kapan kau punya waktu luang untuk ku? Waktu luang untuk menikmati malam bulan purnama (lagi). Semalam saja tidak adakah waktu untuk kita? Tidak-tidak. Waktu mu sudah terlanjur disita oleh dia.

Yasudah mungkin bulan depan atau dua bulan kedepan kamu akan menyempatkan waktu untuk menemaniku, menikmati malam bulan purnama (lagi). Iya mungkin. Entah mengapa malam ini begitu sepi. Sepi sekali. Apa kalian merasakan hal yang sama dengan ku? Ah, tidak mungkin..


Sekarang..
Malam sudah semakin larut. Hujan gerimis masih setia menemani gelapnya langit ini. Tiupan angin pun masih melengkapai malam ini.
Sekarang..
Bulan sudah mulai menarik diri. Mengumpat pada balik awan gelap. Mungkin karena dia tidak sanggup melihat aku yang tetiba menangis mengingat masa lalu.
Sekarang..
Waktu sudah hampir menunjukan tengah malam. Dan kamu masih diam membisu. Tidak ada kabar.
Bulan saja yang tak mempunyai hati tidak sanggup melihat aku seperti ini, apa kamu yang mempunyai hati sanggup melihatnya? :)

Yasudah tidak usah dipermasalahkan. Yang terpenting, setiap detik bersamamu adalah sesuatu yang akan ku hargai selamanya..

Selasa, 27 November 2012
Malam Bulan Purnama
Salam rindu..

Sabtu, 17 November 2012

Ingat, Sayang?

Oh jadi begitu.. Caramu membuatku tidak bisa jauh darimu. Caramu membuatku tidak rela melepas dirimu. Caramu seperti ini? Dengan sebuah pelukan saja aku dibuat mati seperti ini? Skakmat. Hebat sekali kamu. Tapi kenapa? Kenapa kamu terus menanam cinta kepadaku kalau niatmu sebusuk itu? Meninggalkan aku dengan seenaknya? Semau mu? Tidak adil.
Sebenarnya disini yang tersakiti bukan hanya kamu. Aku juga tersakiti, bukan? Sadarkah kamu, kamu selalu menyalahkan aku? Jelas-jelas kamu juga salah. Picik. Benar-benar tidak adil.

Kalau kau semudah itu melepasku, kenapa saat kita bersama kamu selalu mendekapku dengan erat? Aku fikir kau memelukku karna kamu takut akan kehilangan aku. Ternyata aku tertipu. Pelukanmu hanya sekedar nafsu belaka, mungkin. Entah lah. Fikir ku, kamu memelukku karena ketulusan dari hati. Karna kamu takut kehilanganku. Ternyata aku benar-benar tertipu. Ah.. ini bodoh.
Kalau kau mengelak, tidak terima dengan perkataanku tadi, kenapa kamu semudah itu melepasku? Semudah itu mengeluarkan kata-kata semau mu? Ayolah Sayang berfikir. Jangan emosi saja yang kau besarkan.


Kamu ingat saat kamu memelukku dengan begitu erat? Kamu ingat apa yang kamu katakan saat kita berpelukan? Kamu ingat apa yang aku juga katakan saat kita berpelukan? Kamu ingat saat kita berpelukan dibawah bulan yang indah itu mengintip kita dari atas langit? Indah bukan? Kamu ingat keinginan kita? Berpelukan sampai pagi? Ingatkah Sayang? Kamu ingat janji-janji kita?

Coba kamu mengerti aku.. Kamu sudah membuat aku seperti ini. Tidak rela melepasmu. Jangan salahkan aku, aku juga tidak menyalahkanmu. Ini hanya karena cinta.
Kamu mau mewujudkan keinginan kita? Berpelukan sampai pagi, Sayang? Aku ingin. Ya aku menunggu sampai kita dewasa nanti.

Minggu, 4 November 2012
Tepat saat kita berpisah
Salam rindu 
-JP-

Kamis, 08 November 2012

Ah, Cuma Mimpi!

Hari ini sangat melelahkan. Lelah sekali. Kegiatan sekolah yang padat menguras tenaga dan otakku. Sampai dirumah aku tertidur. Lelap sekali. Memang surganya dunia bila sedang capek begini lalu tertidur dengan pulas seperti ini. Apalagi setelah terbangun aku bisa melihat wajahmu. Melihat wajahmu nyata. Tepat dihadapanku. Lalu kau menyapa ku "Hai, sudah bangun yah? Keluar yuk. Kita makan." Aah.. sudahlah tidak usah berkhayal.

*1 new message..*
"Sayang, keluar.. Aku ada ditempat biasa"
Aku langsung bergegas keluar kamar lalu menengok ketempat biasa dia menunngu ku di dekat rumah. Hanya untuk memastikan. Ternyata benar.. kamu ada. Senang sekali. Sungguh. Setelah sekian lama kau tak datang ketempat itu. Aku sangat rindu. Kenapa baru sekarang? Padahal aku sudah merindukan ini sejak lama. Yasudahlah tidak usah dipermasalahkan. Yang penting sekarang kamu sudah ada sini. Terimakasih yah, Sayang.

Aku langsung berlari keluar, lalu segera menghampiri dia yang sudah menugguku sekitar 5menit. Tidak terlalu lama.
Saat aku datang menghampirinya, seperti biasa dia menyapaku dengan sebuah senyuman yang amat sangat membuat jantungku berdabar. Kemudian aku membalas dengan senyumanku yang terasa aneh, tidak seperti biasanya. Aku gugup. Setelah sekian lama tidak berbicara empat mata lagi denganmu. Karena... ah, sudah-sudah aku benci membicarakannya.
Tak lama kemudian kau meraih kedua tanganku, masih sama, kamu masih dalam keadaan tersenyum manis menatap wajahku. Lalu kau memelukku sambil berkata "Aku rindu". Tak kuasa aku menahan tangis. Tangis yang mewakili rindu yang sudah lama aku pendam.
"Kenapa menangis?"
"Aku yang bertanya! Kenapa baru sekarang kamu datang kemari?! Aku marah!"
Pelukan yang mewakili rasa rindu itu semakin erat. Tangisku semakin menjadi-jadi.
"Sudah tidak usah menangis. Harusnya kamu senang sekarang aku sudah ada disini, untuk bertemu dengan kamu"
"Tapi kenapa baru sekarang?! Aku benar-benar marah!"
"Yasudah maaf Sayang. Kemarin-kemarin kita sedang ada masalah, bukan? Sudah tidak usah menangis lagi. Sekarang aku ada disini."
"Terimakasih yah"
Lalu kau mengecup keningku. Ini sangat aku rindukan. Benar-benar sangat aku rindukan. Tapi, aku lebih mengutamakan bertemu dengan kamu daripada kecupan ini.
Setelah kau mengecup keningku...
"Aku sangat rindu" ucapmu
"Aku sangat sangat rindu kamu. Masa kamu ti..."
"Ssstt.."
Lagi-lagi kau mengecupku. Sekarang, kau mengecup bibirku. Lalu aku memejamkan mata. Aku gugup. Sangat gugup.
Setelah itu, aku membuka mata. Aaaah.. Aku marah. Sangat marah. Aku kecewa. Benar-benar sangat kecewa. Kenapa? Kenapa setelah aku membuka mata ternyata kamu tidak ada? Tidak ada dalam pelukanku? Tidak ada dihadapanku?
Sekarang.. aku sudah tersadar. Ternyata.. aku hanya bermimpi. Baru saja aku melewati mimpi yang begitu indah. Iya, mimpi indah. Memimpikan dirimu.
Sayang.. Aku rindu kamu ada disini. Aku rindu saat-saat itu. Cepat kemari! Aku sangat rindu.. Datanglah

Minggu, 4 November 2012
Salam rindu

Sabtu, 27 Oktober 2012

Harapan Dalam Genggaman


Kamu lihat itu? Iya, 2 tangan berbeda yang saling menggenggam. Saling melengkapi.. Kita pernah seperti itu bukan? Iya, aku rindu genggaman mu. Bagi ku genggaman itu yang membuat aku takut. Dimana aku selalu membalas genggaman itu erat-erat. Tau kenapa? Aku takut kamu pergi. Takut akan kehilangan mu. Simpel, itu saja. Tapi kamu tau segimana takutnya aku? Mungkin kamu sudah tau jawabannya dari sebuah pelukan manis saat kita bersama.. Tapi, apa kamu benar-benar tau? Ah.. aku rasa kamu tidak tahu. Tanyakan saja pada aku.

Aku ingat betul saat kamu refleks memeluk ku dengan tidak sengaja. Membut kamu malu, membuat aku gugup. Itu sangat terlihat dari raut wajah kita, Sayang. Tapi suasana kembali seperti biasa saat kita tertawa bersama. Menertawakan ketidak sengajaan mu itu. Lucu ya.. Aku senang.
Apa yang kamu rasakan saat kamu memeluk aku? Apa yang kamu rasa sama seperti apa yang aku rasa? Semacam sehati, mungkin. Aku belum sempat menanyakan hal ini kepadamu. Ini membuat aku semakin takut. Masih sama.. takut kamu pergi.

I want you today, tomorrow, and next week.. and for the rest of my life.. Iyaa, aku ingin memilikimu sampai kita dewasa, punya anak, beranak cucu, dan sampai maut memisahkan, mungkin. Semoga.
Ah.. aku jadi teringat saat-saat kita membicarakan ini. Membicarakan masa depan. Yang membuat aku semakin sangat berharap bisa hidup bersama mu. Dimana kita sama-sama tau apa isi hati dan keinginan kita. Bukankah kita ingin hidup bersama, Sayang? Menjadi sepasang suami istri. Membuat rumah. Mempunyai anak. Bahkan mempunyai cucu. Sampai kita tersadarkan, itu masih jauh sekali kita wujudkan. Dan pada akhirnya kita berdoa kepada Tuhan akan keinginan kita ini dengan diikuti kata "amin" yang tidak cukup diucap sekali. Ingat? Aku sangat ingat sekali itu.
Indah sekali membayangkannya. Bisa hidup bersama kamu selamanya. Selamanya..

Apa kamu masih tetap ingin mewujudkan keinginan kita, Sayang? Akan tetap menunggu ku entah 8 atau 9 tahun lagi? Semoga saja. Tanpa basa-basi akupun masih tetap pada keinginan kita untuk mewujudkan itu. Sungguh..
Semoga kita bisa terus saling menggenggam.. Selamanya yah sayang.. Semoga. Amin.

Senin, 08 Oktober 2012

Walet, Tengok Hidup Ku

Burung walet. Iya burung walet yang akhir akhir ini jadi pusat perhatian gue tiap berangkat sekolah. Entah kenapa burung walet itu centil banget sama gue. Bikin gue gemes sama kelakuannya di depan gue tiap pagi. Centil, centil tiap pagi mereka mondar mandir terbang kesana kemari seolah mereka cari perhatian sama gue. Dan mereka berhasil narik perhatian gue, berhasil bikin gue iri sama mereka. Sial.
Cukup lama gue perhatiin kelakuan mereka ditengah macetnya jalan di pagi hari buat gue berfikir. Sampe gue lupa waktu.
Tiap gue liat gerombolan burung walet yang imut imut itu gue jadi berfikir dan gue sering iri sama mereka. ini konyol.

Kapan gue bisa kaya mereka? bisa selalu bersama sama dengan walet walet lainnya. Kapan gue bisa di care in seperti burung walet? yang gak pernah bisa ngeliat burung walet lainnya sendirian gitu aja. Kapan gue bisa kaya burung walet? yang gue liat mereka selalu berpasangan. tak ada penghianatan. Kapan gue bisa kaya burung walet? yang kalau gue jenuh, gue tinggal terbang ngilangin rasa penat gue, ngilangin rasa jenuh gue, ngilangin rasa badmood gue.



Kalau aja kehidupan gue bisa kaya kehidupan walet walet itu. Bisa selalu nyatu sama temen temen gue. Punya teman yang care. Punya teman yang gak pernah bisa liat temannya sendirian. Punya pasangan yang setia. Bagi kehidupan gue, mungkin itu semua masih jauh banget. Sampe sekarang aja gue bingung, gue punya temen atau engga.. Maksudnya temen yang bener bener temen. Dan gue rasa gue belum punya itu. Huh sial, burung walet bikin gue iri sama pertemannnan mereka.

Dan gue ingin.. ingin banget, Hubungan gue sama pasangan gue kaya burung walet. Yang selalu setia. Selalu bersama.
Gue cuma duduk duduk santai di ujug pohon menunggu kekasih gue datang sambil menjaga sarang. Dan yang pasti gue tau kalau kekasih gue pasti bakal pulang disetiap senja dan waktunya sudah pasti dapat dijanjikan. Dengan perasaan yang sama, dan datang dengan tetap setia sama gue.
Emmm apa perlu gue panggilkan burung walet? Supaya kamu belajar banyak dari mereka. Belajar gimana cara menghargai pasangannya, gimana caranya bersabar, gimana caranya menjaga perasaan kekasihnya, yang terpenting sebagai sesosok lelaki belajar gimana caranya agar bisa menjaga keharmonisan dan kebersamaan untuk kedepannya dan seterusnya.

Seneng yah jadi burung walet. padahal gue tau mereka sebenarnya banyak tekanan tapi gue liat mereka asik asik saja berterbangan kesana kemari menikmati hidupnya. Tidak tau karena mereka dapat menyelesaikan masalahnya atau memang mereka pandai untuk menyembunyikan masalah. Mereka selalu saja bersama sama. Heran. Gak kaya gue yang selalu banyak mengeluh. huuuh..

Sayang, gue cuma bisa liat dan rasa di kehidupan para walet saja.
Tapi gue percaya, suatu saat gue pasti bisa seperti burung walet itu. 
Ini cuma belum waktunya saja..
Walet.. tengoklah hidupku, iya tengok. Tidak apa apa walau hanya sekedar menengok. Tapi kalau bisa, gue ingin kehidupan kalian pindah ke kehidupan gue. Semoga. Huh itu mustahil.